Kemunculan fenomenal seni yang dihasilkan AI, dengan model-model seperti Stable Diffusion dan DALL-E 3, memicu perdebatan penting di AS: apakah hal itu merusak kreativitas manusia? Meskipun hasil visualnya menakjubkan, pengamatan lebih dekat mengungkapkan interaksi kompleks antara AI dan ekspresi artistik, dengan implikasi hukum dan etika yang signifikan.
Bagaimana AI Menciptakan Seni: Tren Ghibli
Seni AI bergantung pada pembelajaran mendalam, yang dilatih pada kumpulan data yang sangat besar. Model difusi, misalnya, belajar untuk membalikkan noise, menciptakan gambar dari teks yang diberikan. Kemajuan terbaru mencakup peningkatan pembuatan teks-ke-video dan kontrol yang lebih bernuansa atas elemen gaya.
“Tren Ghibli,” sebuah fenomena populer di media sosial AS, menunjukkan kemampuan AI untuk mereplikasi estetika artistik tertentu dengan akurasi yang luar biasa. Tren ini, yang didorong oleh perintah yang sangat spesifik dan model yang disempurnakan, menyoroti peningkatan kendali yang dimiliki pengguna AS atas keluaran AI. Kita melihat para seniman dan influencer yang berbasis di AS mendorong tren ini, dengan platform seperti TikTok dan Instagram sebagai pendorong utama popularitas tren ini.
Unsur Manusia: Rekayasa Cepat sebagai Kolaborasi
Intervensi manusia sangat penting. Rekayasa teks yang tepat, yaitu pembuatan deskripsi teks yang presisi, merupakan bentuk seni yang berkembang pesat. Insinyur terampil memandu AI, memanipulasi parameter. Hal ini membutuhkan pemahaman tentang kemampuan AI dan detail estetika. Tren Ghibli, misalnya, membutuhkan konstruksi teks yang sangat spesifik untuk mencapai hasil gaya yang diinginkan, dan komunitas daring yang berbasis di AS berbagi dan mengembangkan teks-teks tersebut. Kolaborasi manusia-mesin ini mendefinisikan kembali proses kreatif.
Baca juga: Etika Jaringan Saraf Tiruan: Mengatasi Bias dan Keadilan dalam Model AI
Proposisi Nilai: Aksesibilitas vs. Kerja Artistik
Seni berbasis AI menimbulkan kekhawatiran tentang penurunan nilai kerja artistik manusia, mengingat kemudahan dalam menghasilkan visual yang kompleks. Namun, hal ini juga mendemokratisasi seni, membuatnya dapat diakses oleh mereka yang kurang memiliki keterampilan tradisional. AI dapat melengkapi seniman profesional, mengotomatiskan tugas, dan memungkinkan jalur kreatif baru. Alat-alat terbaru memungkinkan inpainting dan outpainting, di mana seniman dapat memperluas atau memodifikasi gambar yang ada dengan bantuan AI, yang semakin populer di perusahaan desain dan agensi periklanan.
Permasalahan Hak Cipta & Perkembangan Hukum
Kepemilikan hak cipta dalam karya seni AI masih merupakan area abu-abu secara hukum dan etika. Kasus-kasus pengadilan AS baru-baru ini, seperti Thaler v. Perlmutter , mulai membahas masalah apakah gambar yang dihasilkan AI dapat dilindungi hak cipta. Hukum hak cipta AS, yang mensyaratkan kepengarangan manusia, sedang ditantang oleh semakin canggihnya AI. Kantor Hak Cipta AS secara aktif mencari masukan publik tentang masalah ini, yang mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat di kalangan komunitas kreatif AS.
Mengembangkan Kreativitas: Kolaborasi dan Bentuk-Bentuk Artistik Baru
Dampak seni berbasis AI bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan kreativitas. Jika semata-mata berfokus pada menghasilkan karya orisinal dan estetis, AI menantang nilai-nilai tradisional. Namun, jika kita merangkul kolaborasi dan inovasi, AI memperluas lanskap kreatif. Tren Ghibli, bersama dengan aplikasi transfer gaya lainnya yang populer di kalangan seniman AS, menunjukkan bagaimana AI dapat menginspirasi bentuk-bentuk artistik baru dan memfasilitasi kerja lintas disiplin.
Sentuhan Manusiawi yang Mendasar: Emosi dan Niat
AI mereplikasi gaya tetapi kurang memiliki ekspresi dan niat emosional yang tulus. Seniman manusia memasukkan pengalaman dan emosi pribadi ke dalam karya mereka. Sentuhan manusia ini, yang menyampaikan makna dan membangkitkan respons, adalah unik. Arah masa depan mencakup eksplorasi model AI yang dapat lebih memahami dan menghasilkan konten emosional, sebuah topik penelitian yang aktif. Namun, peran mendasar pengalaman manusia dalam seni tetap menjadi pusat perhatian.

